Biopestisida Menggunakan Bacillus thuringiensis (Bt) Sebagai Solusi Untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Biopestisida Menggunakan Bacillus thuringiensis (Bt) Sebagai Solusi Untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Muhammad Reza Qosim Ain              21025010135

Dewasa ini, Dampak negatif dari intensikasi pertanian yang disebut dengan revolusi hijau yang sangat intensif pemakaian pestisida dan pupuk sintetis, sudah mulai dirasakan dan hal ini menyadarkan masyarakat untuk kembali ke pertanian yang ramah lingkungan dengan menggunakan pupuk dan pestisida organik sebagai alternatif solusinya (Rahayu, 2006). Pertanian organik dapat dijadikan pilihan dalam mengatasi permasalahan akibat pemakaian produk-produk pertanian yang berasal dari bahan kimia sintetis. Pertanian organik adalah suatu teknik budidaya pertanian yang mengandalkan penggunaan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan masyarakat serta tidak merusak lingkungan. Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan-bahan kimia (BPPS, 2002). Pertanian organik bila diusahakan secara intensif dapat mengembalikan kesuburan tanah walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai tingkat kesuburan tanah seperti pada saat sebelum penggunaan pupuk dan pestisida sintettis yang berlebihan. Penggunaan pupuk-pupuk organik saat ini sudah semakin digalakkan, pupuk organik berasal dari bahan-bahan organik alami seperti limbah kotoran ternak, sampah rumah tangga, sampah kota, bahkan limbah dari kotoran manusia. Pupuk organik memiliki kandungan unsur hara yang lengkap, bahkan dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman, antara lain asam humik dan asam fulvat walaupun kadarnya rendah (Ishori, 2008)

Apasih biopestisida itu?

Jadi, Biopestisida adalah suatu bentuk pestisida yang berasal dari bahan-bahan alami atau organisme hidup untuk mengendalikan hama, penyakit tanaman, dan gulma. Biopestisida merupakan pestisida organik yang dipakai untuk mengendalikan populasi hama di bawah batas ambang ekonomi (Sihombing dan Samino, 2015). Sumber utama biopestisida melibatkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, dan nematoda, serta bahan alami seperti minyak nabati dan ekstrak tumbuhan. Biopestisida merupakan bahan hayati, baik berupa tanaman, hewan, mikroba, atau protozoa yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman (Tarukalloet al., 2014). Keberlanjutan dan minimnya dampak negatif terhadap lingkungan serta kesehatan manusia menjadi karakteristik utama biopestisida. Salah satu contoh biopestisida yang umum digunakan adalah Bacillus thuringiensis (Bt), bakteri yang menghasilkan toksin yang mematikan bagi larva serangga tertentu, tetapi aman bagi manusia dan hewan non-target. Selain itu, jamur entomopatogenik seperti Beauveria bassiana dapat menyebabkan penyakit pada serangga tanaman. Penggunaan biopestisida membantu mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, yang sering kali menimbulkan kekhawatiran terkait dampak lingkungan dan kesehatan. Biopestisida merupakan salah satu teknologi ramah lingkungan yang mendukung pengembangan pertanian organik. Biopestisida adalah ramuan alamiah yang dapat menghemat pengeluaran petanidari pembelian bahan obat obatan (Pangaribuanet al.,2016).

Biopestisida juga mendukung pendekatan pertanian berkelanjutan dan pengelolaan tanaman yang lebih ramah lingkungan. Keuntungan lainnya termasuk pengurangan risiko residu kimia pada hasil pertanian dan pengembangan ketahanan terhadap serangan hama secara alami. Namun, penggunaan biopestisida tetap memerlukan manajemen yang tepat agar mencapai efektivitas optimal dan meminimalkan potensi dampak negatif yang mungkin timbul. Dengan terus berkembangnya teknologi dan pemahaman terhadap biopestisida, peran mereka dalam pertanian berkelanjutan menjadi semakin signifikan. 

Biopestisida dari Bacillus thuringiensis (Bt)

Bt adalah singkatan dari Bacillus thuringiensis, yang merupakan jenis bakteri yang menghasilkan kristal protein toksin yang dapat menjadi biopestisida yang efektif. Bakteri ini ditemukan pada tahun 1901 oleh ilmuwan Jerman bernama Ernst Berliner, dan sejak itu, Bt telah menjadi salah satu biopestisida paling umum yang digunakan di pertanian. Bacillus thuringiensis menghasilkan kristal protein yang disebut delta-endotoksin atau Bt toxin. Toksin ini bersifat toksik terhadap larva beberapa serangga tertentu, terutama serangga ordo Lepidoptera (ulat tanaman), Diptera (lalat), dan Coleoptera (kumbang). Bt toxin bekerja dengan merusak saluran pencernaan larva setelah larva memakan tanaman yang diinfeksi Bt atau formulasi Bt yang diaplikasikan sebagai pestisida.Keunggulan Bt sebagai biopestisida melibatkan spesifisitasnya terhadap target hama tanaman, sehingga tidak merugikan organisme non-target, manusia, atau hewan lainnya. Selain itu, Bt memiliki potensi untuk mengendalikan hama tanaman tanpa meninggalkan residu berbahaya dalam lingkungan. Penerapan Bt umumnya dilakukan dalam bentuk formulasi cairan atau bubuk yang disemprotkan ke tanaman. Penggunaan Bt telah menjadi bagian integral dari pengendalian hama terpadu (IPM) di banyak pertanian, di mana pendekatan terpadu digunakan untuk mengelola hama dengan cara yang efektif dan berkelanjutan. B. thuringiensis yang merupakan bioinsektisida mikrobial cukup banyak digunakan dibandingkan yang berasal dari mikroba yang lain. Bakteri ini adalah bakteri Gram positif, berbentuk batang, dan memiliki kemampuan menghasilkan kristal protein selama masa sporulasinya. Sebagai pengendali hayati, spora dan kristal protein ini dapat bersifat racun pada sistem pencernaan serangga (Pujiastuti, 2004; Valicente et al., 2010).

Ada cukup banyak keuntungan yang bisa didapat dalam penggunaan biopestisida ini lhoo, keuntungannya yakni:

1.     Spesifik terhadap Serangga Target: Biopestisida Bt sangat spesifik terhadap larva serangga tertentu, seperti ulat tanaman, sehingga dapat mengendalikan hama tanpa merugikan organisme non-target, manusia, atau hewan lainnya.

2.     Tidak Merusak Lingkungan: Bt tidak meninggalkan residu yang merugikan di lingkungan karena merupakan organisme hidup yang secara alami terjadi di tanah. Hal ini konsisten dengan pendekatan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.

3.     Tidak Menimbulkan Resistensi Cepat: Karena sifat spesifiknya, resistensi terhadap Bt cenderung berkembang lebih lambat dibandingkan dengan beberapa pestisida kimia, karena hanya spesies tertentu yang terkena dampak.

4.     Cocok untuk Integrasi dalam Pengendalian Hama Terpadu (IPM): Bt dapat diintegrasikan dengan baik dalam pendekatan IPM, di mana berbagai metode pengendalian hama digunakan secara komprehensif untuk mencapai pengelolaan hama yang efektif.

Referensi:

Rahayu, M. 2006. Pro kontra Sekitar Pertanian Organik. Buletin Informasi Teknologi Pertanian Volume 2. No. 4. 2006. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat.

Hadinata, I.2008. Membuat Mikroorganisme Lokal. Dewi Sri PM HIMATEK Organik. Http:// ivanhadinata@yahoo.com.

Valicente FH, Tuelher EDS, Leilete MIS, Freire FL Vieira CM. 2010. Production of Bacillus thuringiensis biopesticides using commercial laboratory medium and agricultural by products as nutrient sources. Revista Brasileira de Milho e Sargo. 9(1):1-11.

Pangaribuan, Darwin H., Niar Nurmauli dan Sarno. 2016. Penyuluhan dan Demplot Teknologi Pertanian Organik dengan Demonstrasi Aplikasi Pupuk Organik Cair dan Biopestisida di Desa Braja Caka Kabupaten Lampung Timur. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 22(3): 88-95.

Tarukallo, Piter Barto, Andi Alimuddin Unde dan Ladaha. 2014. Faktor yangMemengaruhi Adopsi Teknologi Biopestisida oleh Petani Sayur di Sendanadan Purangi Kota Palopo. Jurnal Komunikasi Kareba. 3(2): 125-132.

Sihombing, Maic Audo Eybi Mayer dan Setijono Samino. 2015. Daya RepelensiBiopestisida Terhadap Walang Sangit (Leptocorisa oratorius, Fabricus) diLaboratorium.Jurnal Biotropika. 3(2): 99-103

 

 

 

 

 

 

 


Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments